23.6.08
2 komentar

Dua Laki-Laki

Kepanikan menyembul di wajah Tanti. Tangan kanannya berkali-kali menimbang ponsel. Bibir tipisnya yang bawah terselip di antara gigi-giginya yang mirip biji mentimun. Tanti yakin sudah mencantumkan nama orang yang baru saja ia kirimi pesan singkat dengan benar. Tapi kenapa orang itu justru membalasnya dengan pertanyaan: maaf, ini siapa ya?

Tanti merasa sedang dipermainkan oleh Danang, laki-laki yang baru saja ia kirimi pesan singkat itu. Mungkinkah Danang sengaja ingin membuat bingung Tanti? Mungkinkah Danang hanya ingin menunjukkan cara yang halus untuk menolak berkomunikasi dengan Tanti? Atau, mungkinkah Danang tidak membaca dengan cermat siapa pengirim pesan singkat itu? Itu bisa saja terjadi ketika seseorang sedang sibuk atau pikirannya hanya tertuju pada satu hal. Bisa jadi Danang sedang dalam situasi terakhir, pikir Tanti.

Tapi, Tanti tak mudah begitu saja menenangkan pikirannya. Ia heran. Setelah lama berfikir, ia pun mengirimkan pesan singkat keduanya.

“Maksud lo apa sih?”

Tanti sengaja meluncurkan pertanyaan itu. Mulai lahir perasaan jengkel dalam benaknya. Sangat tidak lucu ketika ia mengirim pesan singkat kepada orang yang jelas-jelas ia kenal dan mengenal dirinya, lalu orang itu tiba-tiba justru balik bertanya. Apalagi jika isi pesan itu sangat penting untuk segera dijawab.

Jika memang orang itu sedang sibuk sampai tak sempat membaca nama si pengirim, itu mungkin saja terjadi. Bisa jadi orang itu masih dalam perjalanan, sedang berbicara dengan orang lain, atau yang paling nahas nomor Tanti memang sudah terhapus dari daftar phonebook orang itu. Tapi bagaimana dengan Danang? Tadi pagi mantan kekasihnya itu masih sempat mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Tanti hanya sekadar bertanya kabar.

Tanti masih memendam pertanyaan-pertanyaan itu. Ia bukan orang yang mudah menyerah untuk mengejar sebuah jawaban. Apa pun akan dilakukannya hanya untuk menghilangkan rasa penasaran.

Pikiran Tanti buyar ketika ponselnya bernyanyi nyaring. Sebuah nomor ponsel yang tak dikenalnya terpampang di layar ponsel Tanti.

“Halo, maaf ini siapa ya? Tadi SMS ke nomor saya dua kali ya?” Suara orang itu terdengar agak keras melalui speaker ponsel Tanti. Suara yang datar.

“Lha ini siapa?”
“Saya Danang.”
“Danang siapa?”

Tanti makin tidak mengerti atau malah ia justru mencurigai Danang sedang mempermainkannya. Namun, setelah berbasa basi akhirnya ketegangan yang menyergap wajah Tanti mulai surut, seolah-olah ia kini tengah berbicara dengan kawan akrabnya.

Laki-laki itu juga bernama Danang. Lengkapnya Danang Setiabudi. Dia adalah kakak kelas Tanti sewaktu masih duduk di bangku kuliah. Danang sudah seperti kakak sendiri bagi Tanti. Begitu juga Tanti di mata Danang, sudah seperti adiknya sendiri. Mereka biasa saling curhat tentang berbagai masalah, tak terkecuali masalah asmara.

Dulu, Tanti sempat digosipkan telah menjalin hubungan khusus secara diam-diam dengan Danang. Itu bukan cerita yang aneh. Mereka setiap hari selalu ke sana kemari bersama-sama. Di mana ada Tanti, hampir dipastikan di situ ada Danang. Bahkan kerap kali Danang mengantar Tanti pulang ke kosnya saat kebetulan mereka sama-sama tidak ada lagi jam kuliah.

Sebaliknya Tanti pun demikian. Ia juga kerap mengundang Danang datang ke kosnya untuk mengajaknya makan apabila jatuh tanggal tua. Apalagi mereka sama-sama berasal dari satu daerah, tepatnya salah satu kabupaten di pesisir pantai utara. Mereka berkenalan saat diadakan orientasi perkenalan kampus bagi mahasiswa baru, tepatnya di sebuah kampus swasta yang terletak di Semarang.

***
Setelah putus dengan Danang, Tanti masih menjaga komunikasi. Begitu juga Danang. Awalnya mereka sepakat hanya perlu menyegarkan kembali hubungan asmara yang beberapa minggu belakangan ini sering timpang. Tanti menganggap perbedaan karakter antara ia dan Danang sudah sulit dicari titik temunya. Meski pada akhirnya mereka pun sama-sama menempuh jalannya sendiri-sendiri, namun keduanya tak lantas memutuskan hubungan persahabatan.

Tanti mengenal Danang saat laki-laki itu datang ke tempat Tanti bekerja untuk suatu urusan. Nama lengkapnya Heru Danang Nugroho. Wajah Tanti yang oval ditambah dua lesung pada pipinya tanpa disadari telah memikat hati Danang. Mula-mula Danang sering datang ke kantor Tanti seminggu dua kali, kemudian laki-laki itu memberanikan diri mengajak Tanti untuk menikmati suasana malam di tengah kota. Tak jarang pula Danang mengajak Tanti nonton film atau sekadar makan malam di kaki lima.

Entah siapa yang lebih dulu menyemai bibit-bibit cinta di hati mereka, yang jelas Danang dan Tanti pun sepakat untuk menjaga hubungan khusus di antara mereka. Secara bertahap Danang memperkenalkan Tanti kepada keluarganya. Bagi Tanti, keluarga Danang adalah keluarga yang yang cukup ramah. Mereka selalu memberi sambutan hangat setiap kali Tanti datang, dengan atau tanpa Danang. Tanti pun merasakan rumah keluarga Danang sudah seperti rumahnya sendiri.

Sayangnya, hubungan itu harus diakhiri. Tanti merasa lama-lama Danang terlalu mengekang. Meski ia tahu tujuan Danang adalah demi kebaikan mereka berdua, tetapi Tanti sudah berkali-kali menyatakan ia masih ingin bebas. Masih ada beberapa keinginan yang menghuni ruang kepalanya dan ia rasa itu harus terwujud. Tanti tahu apa yang mesti dilakukan.

Sedangkan Danang justru berfikiran lain. Ia berharap hubungannya dengan Tanti bisa lebih diperjelas lagi; Danang menawarkan diri untuk melamar Tanti.

***
Mata Tanti berbinar. Ia tak mengira sosok Danang yang dulu sudah dianggap sebagai kakaknya sendiri tiba-tiba datang pada saat-saat ia sendiri. Danang sudah seperti dilupakan, atau setidaknya laki-laki yang usianya lebih tua satu tahun dari Tanti itu sudah jarang berkomunikasi. Begitu pun sebaliknya. Mungkin mereka tidak bermaksud saling melupakan, terkecuali kesibukan masing-masinglah yang telah menciptakan dunia sendiri-sendiri.

Mulanya seminggu sekali Danang menelfon Tanti dan beberapa kali mereka saling kirim SMS. Makin lama Danang mulai sering mengontak Tanti. Hanya butuh waktu dua bulan, bagi Tanti dan Danang untuk saling menambatkan hati satu sama lain.

***
Suatu sore, Tanti tertawa sendiri di depan cermin yang tergantung di atas meja riasnya sampai gigi-giginya yang menyerupai biji mentimun itu kembali terihat.

Sosok Danang yang sekarang menjadi kekasihnya masih mempermainkan pikirannya. Yang masih tersimpan dalam ingatannya, saat itu ia bermaksud menanyakan kabar adik Danang, mantan kekasihnya, yang kabarnya terserang gejala demam berdarah. Apa lacur, pesan singkat itu justru terkirim kepada Danang yang lain.

“Kok bisa?” Tanti luncurkan pertanyaan itu pada dirinya sendiri, seolah-olah dirinya adalah orang lain. Dan Tanti masih terus memikirkan jawaban atas pertanyaan itu berkali-kali.

* 2008
_________________________________________
dimuat Tabloid NOVA edisi 23-29 Juni 2008

2 komentar:

n mursidi said...

kang, aku jaluk email nova untuk kirim cerpen. kirim ke emailku ya: nur_mursidi@yahoo.com karena hp-ku hilang,,,,,

cassle said...

Wuaah... salah sms... makanya, kalo simpen contact yang lengkap dong.. :D btw, congratz again yak guru.. :)

 
Toggle Footer
Top