9.12.08

NUNG ( 11 )

biarpun retak cermin
aku tak akan bergeming
jika kau mau, ikutlah denganku
di tepi sungai kita berkaca pada air
menatap langit dengan kepala tertunduk

menteng, 9/12/08 selanjutnya...

17.10.08

NUNG ( 7 )

aku masih mengingatmu
hai, perempuan yang menggambar itik
di lengan kananku
dan mengutuk lengan kiriku
jadi batu

*2008 selanjutnya...

NUNG ( 3 )

tak ada yang benar-benar gelap
selain malam yang menggerayangi wajahmu
meruapkan aroma kembang kenanga
lalu hujan muncul di celah pagar
dengan percik sederhana

oi, di mana segala muasal
musim ketiga datang tanpa ihwal
mencatat puisi tak terucap
bukan karena bibir telah terkatup
tapi tersebab kau anyam kata
agar lekas kukenang seluruh cemas
dan kau biarkan rindu seperti embun
menutup kaca jendela

*2008 selanjutnya...

21.9.08

NUNG ( 2 )

aku masih menyimpan jejak pelayaran
yang berkali-kali dikaramkan ombak
tapi orang-orang menuduhku telah menyimpan lelucon untukmu

kau tahu, berlayar tak hanya mengikuti arah angin
atau menebak gerak ombak
sebab laut memberi tanah yang lain
sebab maut selalu menunggu di celah karang

*2008 selanjutnya...

NUNG ( 1 )

ceritakan padaku tentang laut
yang telah memberimu kenangan tak terpahamkan
seperti senja yang turun membawa kabar buruk
seperti dukacita yang sekeras tebing-tebing

aih, apakah masih ada sisa
selain butir pasir yang nyelinap
di lurus rambutmu?

*2008 selanjutnya...

15.9.08

NUNG

nung, kau lihat dari balik pintu
rumahmu yang menatap senja
dua ayam jantan bersabung di hari murung
menerjemahkan kemenangan dan kekalahan
kemenangan hanya semacam persitiwa kecil
yang akan terus dikenang seperti kekalahan

nung, di suatu waktu yang tak lebih kaku dari tulang rusukmu
kekalahan menjadi lebih nikmat. seperti rasa kopi yang pekat.
dan di waktu yang lain,
tangan-tangan batu sekeras kepalamu.
memutar kisah yang salah. sejarah pun berbelok arah
: yang membangun harus bisa menghancurkan
yang mengenang harus bisa melupakan


pada seribu angin, kau usir musim
pada seribu cuaca, kau titip rencana
pada seribu pagi, kau tumbuk hati
pada seribu malam, kau mimpi lebam

nung, kini tak ada lagi ruang ragu
di sempit kamarmu
tersebab kau terlanjur percaya
di balik muslihat angka
tersebab kalimat telah gugur
di malam lamur

September, 2008 selanjutnya...

SAJAK RINDU

bila kupeluk tubuhmu
tidakkah kau tahu
ada yang lebih cemburu
dari gigil yang selalu risau

bila kusebut namamu
tidakkah kau tahu
batu-batu ngigau
salah menafsirkan pikiranku

bila kutatap matamu
tidakkah kau tahu
kulihat silsilah masa lalu
seperti sisa gurat pisau

bila kuambil tanganmu
tidakkah kau tahu
kita telah pecahkan waktu
yang lebih keras dari batu

dan bila kau tinggalkan aku
tidakkah kau tahu
aku selalu memburu jejakmu
sebab tak ada istirah bagi hati yang rindu

Jogja-Agustus, 2008 selanjutnya...

12.9.08

cerpen: TELEPON IBU

Pagi ini ponselku berdering. Antara sadar dan tak sadar, kuangkat panggilan itu. Suara perempuan tua terdengar di balik speaker ponsel; itu suara ibuku. Aku sedikit ragu-ragu. Mungkin karena sejak kemarin pagi aku tidak tidur dan baru bisa tidur dua jam lalu, pikiranku masih melayang-layang.

“Nang, kapan ikut buka puasa dan sahur di rumah?” tanya ibu.

Aku paham apa maksudnya. Ini pasti trik untuk menyuruhku pulang. Ya, biasanya ibu memang suka begitu. Sangat jarang dia menyuruhku pulang secara tegas, kecuali untuk urusan-urusan yang sangat penting. Dan puasa kali ini aku memang tidak bisa berkumpul dengan keluarga. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan.

“Ya, nanti lah, bu. Aku masih ada kerjaan yang belum bisa ditinggal. Keluarga baik-baik saja kan?” jawabku dengan suara lemah.

“Alhamdulillah. Bapakmu dua hari lalu kambuh sakit perutnya. Mungkin karena masih awal puasa, apalagi kamu sendiri tahu kebiasaan bapakmu yang suka ngemil itu kan? Eh, gimana kamu sama Fitri?”

Ah, kenapa ibu bertanya begitu? Apakah ibu sejauh itu merasakan apa yang terjadi padaku beberapa hari belakangan ini, tepatnya tentang hubunganku dengan Fitri?

“Insyaallah baik-baik aja, bu.” Jawabku berbohong.

“Ya sudah. Banyak-banyak ibadah di bulan puasa ini. Ibu dan bapak mendoakanmu dari rumah.”

“Amin. Terima kasih, bu.”

Ibu sudah menutup telpon. Jarum jam menunjukkan pukul 6.30 pagi. Aku masih ingin melanjutkan tidur, tapi pertanyaan ibu tadi terlanjur mengganggu pikiranku. Ya, aku memang pernah mengajak Fitri ke rumahku. Kukenalkan dia pada keluargaku. Kata mereka, Fitri gadis yang menarik. Bahkan anak tanteku yang masih kecil sampai sekarang masih sering menanyakan Fitri. Kata orang, entah benar atau salah, anak kecil punya perasaan yang tajam.

Tak berselang lama, ponselku berdering kembali. Kali ini aku tahu, itu nada dering untuk pesan singkat yang masuk. Nama pengirim pesan itu terpampang jelas di ponselku, itu pesan singkat dari Fitri.

“Maaf, mas. Tadi malam aku ketiduran.” Begitu bunyinya.

Aku coba mengingat-ingat apa isi pesan singkatku semalam untuknya. Ya Tuhan, semalam aku berusaha menelponnya. Tapi sampai tiga kali panggilan, Fitri tak mengangkatnya. Aku sempat mengirimkan pesan singkat ke ponselnya, sekadar menanyakan apa yang dilakukan Fitri sampai-sampai ia tak mengangkat panggilanku. Apakah Fitri lupa menaruh ponselnya? Atau, barangkali ponselnya ketinggalan di suatu tempat sehingga ia tak tahu ada panggilan dariku? Ya, ini kebiasaan yang cukup sering dilakukan.

“Ya, sudah. Gak apa-apa kok. Semoga hari ini tetap jadi hari yang menyenangkan bagimu, hunny,” balasku.

Aku manfaatkan waktu yang tidak sampai satu jam di pagi ini untuk bermalas-malasan di kasur, sebelum aku berangkat kerja. Aku menunggu balasan SMS dari Fitri. Tak kunjung masuk ke ponselku. Menit ke menit terus berlalu, aku masih menunggu.

***

Entah apa yang menguasai pikiranku. Setiap kali aku mengirimkan SMS kepada Fitri, aku selalu berharap ada balasan darinya, sama seperti dia yang dulu sering protes ketika SMSnya tak segera kubalas. Tapi setelah hampir dua minggu ini, beberapa SMSku tak terbalas, tepatnya jarang dibalas. Banyak pertanyaan tentang Fitri bergantungan di kepalaku. Bahkan untuk menelponnya pun aku harus berusaha keras, bisa tiga sampai lima kali dalam sehari semalam. Lambat laun, aku sering tak enak hati. Parahnya, perasaan itu selalu terbawa ke tempat kerjaku. Teman seruanganku yang mengetahui situasi batinku akhir-akhir ini menyarankan aku mencari hiburan yang ringan-ringan atau sekadar jalan-jalan ke mal.

“Atau sepulang kerja nanti kita cari kolak di pinggir jalan untuk buka puasa. Di situ kita bisa lihat ramainya orang berlalu lalang. Aku dulu juga sering begitu, melihat orang saja sudah membuat pikiran segar.” Ajak temanku tadi.

Aku mengiyakan. Sepulang kerja kami pun menyusuri salah satu ruas jalan protokol di kota ini. Sudah jadi tradisi di kota ini saat bulan puasa tiba, tepi-tepi jalan terlihat seperti pasar tiban. Penjual kolak dan pembeli sama banyaknya. Meski aku tinggal lumayan lama di kota ini, belum pernah sekalipun beli kolak sambil nongkrong seperti ajakan temanku tadi. Tapi, tak apalah, barangkali memang aku sedang butuh suasana segar untuk mengurangi beban pikiranku tentang Fitri.
“Apa yang terjadi padamu, Nang?”

“Entahlah, Bud. Aku juga tak paham. Pikiranku selalu tertuju padanya. Aku jadi semakin nggak jelas.” Jawabku. Aku pikir Budi sangat paham siapa orang yang aku maksud.

“Coba kau temui dia. Ajak ngomong baik-baik. Jangan sampai akal sehatmu dipermainkan oleh perasaanmu sendiri.” Saran Budi.

“Kau pikir aku tak berusaha, Bud? Saat ia tak di sini, aku berusaha rajin-rajin mengirimkan SMS atau menelponnya, karena hanya itu yang bisa dilakukan setidaknya untuk sementara ini.” Jawabku, kesal.

“Memangnya dia tidak di sini?”
“Tidak. Dan itulah masalahnya.”
“Kenapa harus jadi masalah?”
“Perasaanku semakin tak enak. Apalagi tadi pagi ibuku menelponku, menanyakan keadaan hubunganku dengan Fitri.”
“Nah, itu lah, Nang. Aku kan sudah bilang, jangan kau ladeni perasaan semacam itu. Perasaan itu mudah datang dan mudah pergi. Beda dengan rasa sayang.”

Jalan raya yang membujur beberapa meter dari tempat kami duduk makin ramai oleh orang-orang yang berlalu lalang. Aku sama sekali tak tergoda untuk melihat mereka. Kepalaku semakin pusing. Ada perasaan-perasaan yang hendak memberontak karena terlalu lama terkurung dalam tengkorak kepalaku. Dalam kondisi seperti ini memang aku sering tak mampu berbuat apa-apa. Bahkan untuk mengambil keputusan yang sangat sederhana sekalipun. Aku telah dikuasai oleh perasaanku.

“Nang, yakinlah bukan kamu yang meminta perasaan itu. Ia datang tiba-tiba. Tapi kamu telah menyerahkan hidupmu di tangan perasaanmu. Harusnya kamu yang mengendalikannya.” Kata Budi.

Aku tak tahu. Mungkin Budi bermaksud menenangkan pikiranku yang tak karuan. Dia memang kawan yang baik. Tapi dalam situasi seperti yang terjadi padaku, tidak semua orang bisa berpikir jernih. Ungkapan yang sangat sederhana bisa jadi sebaliknya.

“Tapi coba kau baca ini, Bud.” Aku buka kotak pesan ponselku. Menggeledah satu per satu SMS yang pernah dikirim oleh Fitri kepadaku.

Proses qta tdk brjlan brsamaan, sptny itu sj mslhny,” isi pesan itu aku tunjukkan pada Budi.

“Nah, itu kalimat yang sudah cukup jelas menurutku. Jadi, siap-siaplah kau patah hati..ha..ha..haa..” ledek Budi.

Ah, detak jantungku semakin tak teratur mendengar komentar Budi. Berarti Fitri memang sengaja ingin menghindariku pelan-pelan, pikirku.

“Tapi, Bud. Kalau Fitri benar-benar mau sama aku, tentunya dia tak akan semudah ini membuat keputusan. Lagi pula mencintai yang sempurna itu nggak bakal ada dong. Yang ada hanya bagaimana bisa mencintai sesuatu yang tak sempurna dengan cara yang sempurna, Bud.” Kataku membela diri.

Budi menarik nafas. Langit mulai berwarna tembaga. Jalanan makin ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang. Tapi aku diam-diam merasa terlempar ke suatu tempat yang sangat sunyi. Menata perasaan yang berkecamuk jelas lebih sulit daripada menata lalu lalang orang-orang di jalan raya ini.

“Nang, sekali-sekali jangan kau jadi dirimu sendiri. Kau harus jadi orang lain yang melihat dirimu. Mungkin selama ini caramu berhubungan dengan pacarmu itu telah membuatnya tak nyaman.” Saran Budi yang mirip sebuah ceramah filsafat.

“Nah, berarti kan harus dikomunikasikan terlebih dahulu apa yang jadi keluhannya. Menurutku, salah jika mencintai diartikan sebagai menyukai belaka. Mencintai adalah komitmen, Bud. Komitmen untuk saling berbagi, saling memahami, dan menyempurnakan kekurangan satu sama lain. Saling mendukung. Kalau ada yang salah, ya diluruskan.” Kataku dengan nada tinggi.
Budi terdiam.

“Ya sudahlah, Nang. Tidak semua orang berpikir sepertimu. Anggap saja antara kalian terhalang sifat egois. Kau menganggap benar pikiranmu, begitu juga sebaliknya dengan pacarmu. Setidaknya aku sudah memberimu saran-saran, terserah kau mau pakai atau tidak.” Jawaban Budi terdengar datar. Barangkali dia kesal dengan sikapku yang keras kepala.

Aku diam. Demikian juga Budi. Aku meliriknya, dia sedang mengetik SMS, entah untuk siapa akan dikirim SMS itu. Lampu-lampu kota sudah mulai menyala. Pertanyaan-pertanyaan tentang Fitri masih berjejal di kepalaku, seperti ruas jalan raya yang tak sampai sepuluh meter jauhnya dari tempat dudukku.

“Ayo kita pulang. Sebentar lagi magrib.” Ajak Budi, tangannya menepuk pundakku.
Langit yang tadi berwarna tembaga sekarang berubah kelabu. Meski kami sudah beranjak dari tempat kami membeli kolak, namun pikiran tentang Fitri tampaknya sulit beranjak dari kepalaku.

***

Malam ini aku berusaha menaklukan pikiran-pikiran yang berdesak-desak di kepalaku. Pikiran yang makin liar. Bukankah menunggu sesuatu yang tak jelas akan sangat membosankan? Aku lihat ponselku, rasanya jemariku sudah tergoda untuk mengirimkan SMS untuk Fitri. Tapi aku ragu.

_____________________________________
*Jombang, 10 September 2008
selanjutnya...

11.9.08

Cerpen: PEREMPUAN BERMATA SIPIT

Aku biarkan dia memaki sesukanya. Semua yang telah aku lakukan untuknya, kini seperti omong kosong yang salah. Kata seorang temanku, apa yang mesti dijelaskan lagi pada orang keras kepala seperti dia? Ada benarnya apa yang dikatakan temanku itu, meski sebenarnya aku masih ragu. Tentu dia punya alasan berbuat begitu. Setiap orang punya alasan melakukan sesuatu berdasarkan apa yang jadi keyakinannya.



Baiklah, agar kau tak makin pusing, aku mulai saja cerita ini.
Aku bertemu pertama kali dengannya di stasiun Tugu. Tidak usah aku ceritakan bagaimana kami membuat janji sebelumnya. Yang jelas, kami bertemu di sana saat kereta yang aku tumpangi tiba di stasiun itu. Mata kami saling tatap. Entah apa yang ada dalam pikirannya ketika melihatku. Sebaliknya, aku melihatnya sebagai perempuan yang menarik. Namun, dari matanya yang sipit itu aku menangkap kesan ia memang keras kepala.

Beberapa saat kemudian, tubuh sudah kami melaju di atas motor yang kami tumpangi melewati jalanan Jogja di pagi hari. Kata demi kata meluncur dari mulutku dan mulutnya.

“Emang ada acara apa di Jakarta, mas?” tanyanya.
“Ada peluncuran buku puisi dan sebagian penyair yang puisinya masuk dalam buku itu diundang ke Jakarta,” jawabku.

Lalu, percakapan kami pun melebar seperti air tumpah. Tanpa terasa motor yang kami tumpangi sampai juga di halaman kosku. Aku menawarkan teh hangat. Kami menumpahkan segala cerita dan pertanyaan yang ada di kepala masing-masing. Dari perckapan itu pula aku tahu dia masih kuliah. Namun, entah kenapa aku mencurigai diriku sendiri yang tiba-tiba merasa nyaman saat berbicara dengannya.

Sejak pertemuan itu, kami jadi makin intensif berkomunikasi melalui pertemuan-pertemuan sederhana. Aku juga makin rajin mengirim pesan singkat. Sesekali aku menelfonnya hanya untuk mendengarkan suaranya. Ia pun begitu rajin membalas setiap pesan singkat yang kukirim, mungkin sudah belasan kali setiap harinya.

Kata pepatah Jawa trisno jalaran soko kulino ada benarnya juga. Karena seringnya bertemu dan berkomunikasi itu, aku jadi makin rindu padanya. Padahal aku sendiri belum bagitu tahu siapa ia sebenarnya. Sungguh perasaan yang aneh !

Kepada seorang teman aku bercerita apa yang sedang aku alami.

“Kalau kau selalu bermain dengan pikiran negatif, kapan kau akan merubah kehidupanmu?” katanya.

Ya, benar juga kata temanku itu. Barangkali sama seperti orang lain, jejak-jejak kenangan yang ada di kepala memang tak bisa dibuang. Bahkan melupakan pun tidak berarti membuang, sebab pada saat tertentu ketika ada pemantiknya, kenangan itu seperti api yang siap membakar benda-benda.

Aku semakin yakin untuk menjalani hari-hariku bersama perempuan itu. Ya, sekadar menjalani saja dulu. Mungkin ia juga sama sepertiku. Seandainya tidak, tentu ia akan banyak alasan untuk menolak bertemu dalam intensitas yang sesering itu. Ia perempuan yang selalu riang. Bahkan seringkali ia memancingku dengan humor-humor yang tak terduga olehku.

Suatu malam, ia bercerita kepadaku tentang ketegangan yang terjadi antara ia dan pacarnya.

“Mas, aku sudah pacaran dengannya 6 tahun. Aku sudah melaluinya dengan sabar dan sabar. Tapi tetap saja kelakuannya seperti itu di belakangku.” Katanya.
Baru kali itu aku menangkap kesedihan di balik mata sipitnya yang membuatku terpesona. Diam-diam ada perasaan aneh yang lain, yang tak mudah kuluncurkan dari mulutku.

“Apa yang dilakukan pacarmu?” tanyaku menyelidik.
“Dia selingkuh dan itu dilakukannya berkali-kali.” Jawabnya.
“Hmm…buatku selingkuh adalah kesalahan yang tak termaafkan, siapa pun yang melakukan itu. Bahkan mendengarnya saja aku benci, apalagi jika itu dilakukan padaku.” Kataku.

“Tapi aku masih sayang padanya. Dia itu pacar yang baik buatku.” Katanya.
Jawaban perempuan itu tentu saja mengejutkanku. Kenapa ia masih juga memikirkan kekasihnya yang baru saja diakuinya melakukan selingkuh berkali-kali?

“Manusia hanya melakukan dua hal dalam hidupnya,” kataku.
“Pertama, harus memilih. Kedua, bertanggung jawab dengan pilihannya.” Lanjutku.
“Maksud, Mas?”
“Ya, kamu harus memilih untuk tetap bertahan atau putus dengan pacarmu itu. Kalau kamu memilih bertahan, jangan mengeluh lagi seandainya keberadaanmu diremehkan begitu saja. Sebaliknya, jika kamu memilih putus, jangan bersedih. Aku pikir kamu bisa melakukan yang terbaik untukmu.” Kataku.

Aku lihat matanya yang sipit itu semakin kosong. Entah perasaan apa yang bertaburan di kepalanya.

Suatu malam setelah beberapa minggu kemudian ia bercerita lagi tentang hubungannya yang makin memburuk.

“Mas kok nggak nyuruh aku putus? Nggak suka sama aku ya?” Pertanyaan itu telak membuatku terperanjat. Apa yang ada dalam pikiran perempuan ini tentangku? Meski sebenarnya diam-diam aku sudah menyukainya, aku perlu hati-hati menjawabnya. Aku tak ingin pengalamanku mendekati atau menjalin hubungan dengan perempuan di masa laluku terulang kembali.

Mata sipit perempuan itu terlihat kosong lagi. Seperti ada kepanikan yang sulit diterjemahkan. Seperti ada keputusasaan yang sulit dilafalkan.

“Aku tetap sayang kamu, apa pun keputusan yang akan kau ambil tentang hubunganmu dengan pacarmu.” Jawabku.

Aku berkata demikian sembari berharap ia mengerti bahwa aku benar-benar sedang menunggunya.

***

Perlu kau ketahui, pengorbanan-pengorbanan kecil sudah aku lakukan. Aku sangat paham batas-batas sebuah persahabatan. Aku juga paham bagaimana aku memperlakukan orang yang kuanggap istimewa. Seandainya aku tidak memiliki perasaan khusus padanya, tak mungkin kukorbankan waktu hanya untuk mengirimkan belasan pesan singkat setiap hari sekadar bertanya hal-hal remeh, suatu pekerjaan yang tak pernah kulakukan meski terhadap teman akrabku sendiri. Aku hanya ingin ia tahu tanpa harus aku katakan padanya bahwa aku benar-benar menyukainya, setidaknya untuk sementara ini.

Siang dan malam terus memutar jarum jam. Aku merasa nyaman setiap kali bersama perempuan itu, suatu perasaan yang selama hampir dua tahun ini nyaris tidak ada padaku. Ya, aku sudah terlalu sering bersembunyi di balik kesibukan yang kubuat-buat. Dan kali ini aku berjumpa dengan perempuan yang menyimpan rahasia di balik mata sipitnya.

***

Hari ini, sudah lebih dari satu bulan ia pulang ke kampung halamannya. Bapaknya sakit dan meninggal dua minggu lalu, katanya. Entah kenapa tiba-tiba pagi ini aku memutuskan untuk datang ke rumahnya. Ya, ia pernah mengajakku sebelumnya, jadi sangat mudah bagiku untuk menemukan rumah perempuan itu. Enam jam perjalanan harus kutempuh dari Jogja. Aku ingin melihat kondisinya secara langsung setelah lebih dari sebulan kami berpisah. Di perjalanan, pikiranku semakin tak jelas dan mulai memburuk setelah nomornya gagal kuhubungi. Apa yang terjadi? Apakah ia sengaja menghindariku pelan-pelan? Pikiran-pikiran itu kubiarkan bertaburan. Aku lelah.

Tepat tengah hari aku sampai di rumahnya. Ia persilahkan aku masuk. Aku tahu ia terkejut dengan kedatanganku yang di luar dugaannya. Tapi, kami pun segera berbincang kesana kemari. Saat itu, gugur sudah pikiran-pikiran buruk yang seminggu ini menguasai kepalaku. Ia masih tertawa renyah. Mata sipitnya masih menggodaku.

“Mungkin kedatanganku ini bukan pada waktu yang tepat,” aku mulai mengarahkan pada pembicaraan yang serius.

“Tapi setidaknya aku ingin jujur bahwa sudah lama aku ingin jalan serius denganmu.” Lanjutku.

Aku lihat matanya yang sipit itu menatap ke luar. Tangannya memainkan penggaris besi ke bibirnya. Ah, kenapa ia tak menatapku??

“Terima kasih kamu telah jujur, Mas. Sebenarnya dari awal aku tak punya perasaan apa-apa selain ingin berteman denganmu seperti juga aku berteman dengan yang lainnya.” Katanya, ringan.

Aku terperanjat. Dadaku serasa ditumbuk. Jawaban yang keluar dari mulutnya seperti hujan jarum. Aku berusaha menenangkan diri sambil terus memberi penjelasan padanya. Ruang tamu itu mendadak seperti tak berpenghuni.

“Bagaimana surat dari kampusmu?” aku berusaha mengalihkan perhatian, meski pikiranku masih memberontak.

“Nggak tahu, aku belum menerimanya.” Jawabnya ringan.
“HPmu kok nggak bisa dihubungi?” tanyaku lagi.
“HPku rusak.” Timpalnya.

Diam-diam aku mencium ada yang tak beres dengan semua ini. Aku menuduh pada masa lalu saat kami setiap hari selalu bersama.

Sore itu aku undur diri dari hadapannya. Tanpa aku bilang sebelumnya, aku kembali ke Jogja untuk mengambil surat dari kampusnya. Aku dengar surat itu sangat penting. Sesampainya di Jogja, aku cari temannya yang menyimpan surat itu. Aku bilang bahwa aku akan ke rumah perempuan itu lagi untuk mengantarkan surat itu.

Di tengah perjalanan itu ponselku bernyanyi. Sebuah panggilan masuk dari perempuan itu. Aku dengar suaranya yang sesak, mungkin menangis. Ia menanyakan surat yang aku bawa dan menyuruhku datang ke rumahnya pukul sepuluh malam. Ha?? Pasti temannya yang memberi tahu, pikirku. Dan pasti sangat tidak sopan menyuruh bertamu semalam itu? Belum hilang keterkejutanku, sebuah pesan singkat dari perempuan itu masuk.

Aq gk ska caramu.Aq gk ska kmu.Jujur aja,aku pnya pcr skrg….” Aku berhenti membaca sampai di situ. Kepalaku seperti tertimbun reruntuhan es batu, sangat dingin, hingga membuat pikiranku beku. Mataku jadi tak berselera lagi melihat sekitar. Perjalanan ke kota perempuan itu jadi semakin panjang rasanya.

Aku sampai di kota perempuan itu saat petang. Berjam-jam aku menunggu hingga pukul sepuluh. Aku mulai sadar, itu mungkin isyarat darinya agar aku tak perlu berlama-lama di hadapannya.

Aku berjalan menuju rumahnya melalui sebuah jalan kecil. Malam yang membungkus jalan menuju rumahnya itu seperti membuat gua; semakin ke dalam, semakin gelap. Aku lihat perempuan bermata sipit itu sudah berdiri di balik pagar besi.

“Mana suratnya?” katanya ketus.
“Maaf…” belum sempat aku melanjutkan, tangannya sudah menyambar amplop berwarna putih di tanganku.
“Terima kasih.” Katanya lagi, sembari memberikan punggungnya padaku. Aku tak bisa mencegah tubuhnya dilumat malam, seperti juga kubiarkan malam melakukan hal yang sama padaku.

Tiba-tiba aku merasa matanya yang sipit telah membuat jalan yang sempit.


*Jombang, 9 September 2008
:u/ Pt
selanjutnya...

29.7.08

Cerpen - Si Pembual

Bagi kebanyakan warga desa itu, Sadirin adalah laki-laki muda yang suka bercerita. Umurnya baru sekitar 30 tahun. Dia biasa muncul tiba-tiba saat beberapa warga sedang berkumpul di pos ronda, di masjid, atau sekali-sekali ia muncul di pasar. Tapi, Sadirin juga lebih banyak menghilang mendadak.

Setiap kali Sadirin yang belum punya pekerjaan tetap itu duduk di antara beberapa orang yang berkumpul, semua mata dan telinga pasti tertuju padanya. Tak peduli apakah orang-orang itu paham atau tidak dengan apa yang dibicarakannya, Sadirin akan terus bercerita; dari satu cerita ke cerita yang lainnya.

Tapi diam-diam, Man Kholik punya pandangan lain tentang cerita-cerita Sadirin. Suatu malam, usai menunaikan shalat Isya di langgar, Markum bertanya kepada Man Kholik.

“Jancuk! Makin lama aku mendengar cerita Sadirin, makin kuat dugaanku kalau dia itu cuma membual.” Gerutu Man Kholik, menimpali pertanyaan Markum.

“Nah, Man Kholik kan sama-sama nggak tahu kebenarannya tho?” balas Markum.

“Apa yang mesti dipercaya dari Sadirin? Aku sudah nggak bakal percaya lagi.”

“Iya, Man Kholik. Aku sebenarnya juga ragu-ragu. Dia bilang habis diajak pak bupati menghadap gubernur. Setelah aku telusuri, ternyata itu hanya karangan Sadirin sendiri. Dia cuma dengar ada orang bilang gitu, terus dia akui itu dia yang diajak sama pak bupati.”

“Nah, kan. Apakah kamu masih percaya juga?” hardik Man Kholik.

Barangkali bukan hanya Man Kholik dan Markum yang sudah tidak percaya lagi sama cerita-cerita Sadirin. Mungkin saja orang-orang sudah mulai meragukan kebenaran cerita-cerita Sadirin.

Man Kholik berfikir, sebagai rakyat biasa, untuk ketemu pak camat saja susahnya sudah bukan kepalang, apalagi ketemu bupati dan seterusnya sampai presiden. Untuk ketemu kiai Nur Salam yang punya pondok di kampung sebelah atau pak camat pun rasanya susah, apalagi ketemu kiai atau pejabat pemerintah yang kekuasaannya cukup luas, seperti bupati sampai ke atas.

“Aku bukannya tidak percaya kalau kiai Nur Salam itu pintunya selalu terbuka buat orang biasa semacam kita. Dia itu kiai. Sudah tugasnya kiai untuk menerima kedatangan kita yang mungkin perlu bantuan atau taushiyah-taushiyah­-nya. Tapi sejak lima tahun lalu dia itu kan kiai politik. Baru ngurus partai di tingkat kecamatan saja dia sudah susah didatangi ke rumahnya. Pak camat juga gitu.” Kata Man Kholik.

“Loh, kok bisa Man Kholik berpikiran gitu?” tanya Markum.

“Ha..ha..ha..” Tawa Man Kholik pecah, sampai giginya yang tanggal di bagian depan itu terlihat seperti jendela terbuka. Lemak di tubuhnya seperti naik turun tersebab gerak tubuhnya.

“Kau masih lupa, Markum?” tanya Man Kholik.

Tangannya menyambar sebatang rokok filter, lalu membakarnyan.

“Lupa apa?” Kening Markum berkerut, entah dia mencoba mengingat-ingat sesuatu atau memang tidak paham pertanyaan Man Kholik.

“Waktu kita mau bangun masjid lima tahun lalu, siapa yang datang ke rumah kiai Nur Salam?” timpal Man Kholik.

“Oh iya, saya ingat. Sampean dan saya. Terus?”

“Ya, kamu ingat kan bagaimana kiai Nur Salam menerima kedatangan kita?”

“Betul.”

“Kamu masih ingat juga nggak waktu warga di sini kumpul di masjid untuk musyawarah tentang rencana renovasi masjid?”

“Iya, Man.”

“Nah, waktu musyawarah itu kan kita undang juga kiai Nur Salam. Bahkan dia bilang apa? Masjid itu rumah Tuhan. Sangat tidak lucu rumah kita justru lebih bagus dibanding rumah Tuhan. Dia bilang akan membantu sampai masjid kita benar-benar jadi, atau dia akan dekati bupati. Dia juga bilang punya kenalan dekat orang Departemen Agama di pusat sana. Dia bilang itu pada semua orang yang hadir lho. Jangan salah. Kata-kata itu pasti diingat sama orang-orang yang hadir. Bahkan aku dengar cerita kesanggupan kiai Nur Salam membantu pembangunan masjid itu sudah tersebar ke mana-mana. Tapi kamu tahu sendiri kan?”

“Iya Man Kholik. Maksud Man Kholik masjid itu sampai sekarang masih mangkrak kan?”

“Nah, benar itu, Kum. Rumahnya lebih bagus dari rumah juragan Kadir. Bangunan pondok dan sekolahannya sudah tiga lantai. Mobilnya sekarang ada tiga. Padahal waktu mau diadakan renovasi masjid itu, kamu tahu sendiri seperti apa bangunan rumah dan pondoknya? Mobilnya pun hanya satu, kijang kapsul.” Tubuh Man Kholik kembali bergoyang. Lemak-lemaknya kembali terlihat naik turun. Giginya yang tanggal terlihat seperti jendela yang dibiarkan terbuka. Tangan kanannya memukulkan sebatang rokok filter yang sudah hampir habis pada sebuah asbak.

“Sekarang muncul Sadirin. Malah dia pernah bilang ke aku, dia itu beberapa kali sering ketemu Gus Dur. Dekat dengan kiai Hasyim Muzadi. Dekat dengan kiai-kiai besar di seluruh Jawa. Katanya dia sering dipanggil beliau-beliau.” Sambung Man Kholik.

“Hmm..iya Man. Dia juga pernah bilang begitu ke saya dan orang-orang.” Kepala Markum mengangguk.

“Itu namanya jancuk kan? Mau ngapusi orang banyak tho? Lalu apa untungnya dia ngomong begitu, ngalor ngidul? Menurutku, nggak ada yang dibanggakan. Orang bisa kenal dengan orang-orang penting itu ya biarkan saja. Itu biasa saja, bukan sesuatu yang hebat. Kalau dia mau bantu orang lain dengan modal perkenalananya itu, ya monggo. Tapi kalau untuk pamer-pameran, maaf aku tidak suka.”

“Iya sih. Tapi si Sadirin itu dulunya kan mahasiswa, Man Kholik. Katanya dia aktif di organisasi apa gitu, aku nggak begitu ngerti. Dia rajin sowan ke kiai-kiai lho. Dia pernah perlihatkan fotonya sedang berdiri di belakang Gus Dur.” Kata Markum.

“Nah, coba kamu pikir. Gus Dur itu kan dikenal banyak orang. Apalagi Susilo BambangYudhoyono. Menteri-menterinya. Gubernur. Bupati. Lha wong pelawak seperti Thukul saja banyak yang menggemarinya. Itu, si Oneng itu juga cantik dan banyak penggemarnya. Tapi, kalau sudah diundang ke mana-mana, apakah mereka kenal satu per satu orang-orang yang ada di sekitarnya? Lha wong seorang gembel saja bisa foto bareng presiden. Apa terus si gembel itu kita anggap sebagai orang penting juga?” timpal Man Kholik berapi-api.

Markum melongo. Dia pikir ada benarnya juga kata-kata Man Kholik. Bisa saja orang semua foto bersama dengan orang penting. Tapi foto itu hanya tinggal kenangan.

“Jadi, Man Kholik menyimpulkan tidak percaya sama sekali dengan cerita Sadirin?”

“Ya. Betul itu. Aku tidak percaya dengan cerita-cerita Sadirin. Kita itu mbok ya jangan mudah terlena hanya gara-gara kenal dengan orang penting. Kalau Sadirin benar-benar kenal dengan mereka-mereka, kenapa dia hanya ceritakan itu kepada orang-orang di sini?”

“Maksud Man Kholik?”

Man Kholik kembali menyambar sebatang rokok filter dan membakarnya sebelum melanjutkan kata-katanya. Dia betulkan posisi duduknya.

“Begini, kalau toh Sadirin itu kenal dekat dengan orang-orang penting, mbok ya jangan hanya besar di mulut. Masjid kita itu kan belum seratus persen jadi. Ini contoh kecil saja. Menurutku akan lebih baik kalau dia dekati kenalan-kenalannya. Minta mereka menyumbang untuk melanjutkan pembangunan masjid. Kita mestinya malu punya masjid kok sepertinya nggak diurus. Kalau kita mau ngurus sesuatu yang berhubungan dengan pejabat tapi kita nggak kenal salah satu dari orang-orang itu, jangan harap kita bisa jadi pesulap.”

“Benar itu, Man.”

“Dulu, aku itu dekat sekali dengan mantan bupati kita. Aku sering diajak jalan-jalan. Aku dikenalkan dengan pejabat-pejabat provinsi. Aku sering dimintai tolong untuk mengurus proyek ini, proyek itu. Waktu itu, kalau aku mau minta sumbangan atau butuh bantuan apa saja, tinggal ngomong ke bupati. Aku juga sering diajak sowan ke kiai-kiai di Langitan, Pasuruan, Liboyo, dan kota-kota lain. Kamu tahu nggak, kenapa saya dikenalkan dengan kiai-kiai itu?”

Markum menggeleng.

“Ya, maksudnya biar aku bisa jadi jembatan antara bupati dengan kiai-kiai itu. Tapi sayang, nggak lama kemudian pak bupati itu dipaksa mundur dua tahun lalu. Kamu dengar beritanya kan? Pak bupati dipaksa mundur karena tersangkut kasus korupsi. Tapi dia itu difitnah. Aku tahu sendiri karena aku sudah sangat dekat dengan beliau. Dengan keluarganya. Tapi, posisiku masih tetap aman. Setelah aku dikenalkan dengan kiai-kiai sepuh, makin lama aku juga makin dekat dengan beliau-beliau. Apalagi dengan keluarga Lirboyo, aku juga sudah seperti bagian dari keluarga mereka.”

Markum termangu mendengar cerita-cerita Man Kholik. Malam semakin larut. Man Kholik terus melanjutkan cerita-ceritanya. Cerita-cerita Man Kholik makin lama makin melebar seperti air tumpah. Di benak Markum, cara Man Kholik menyampaikan cerita-ceritanya itu makin lama tak jauh beda dengan cara Sadirin mengobral cerita-ceritanya. Laki-laki tambun yang pernah diberhentikan sebagai guru sebuah madrasah karena dituduh melarikan salah satu siswinya itu seperti tape recorder yang terus mengeluarkan cerita-cerita dari masa lalunya.

Bahkan Man Kholik berusaha meyakinkan Markum kalau sampai malam itu pun mantan bupatinya masih sering meminta tolong kepadanya. Kiai-kiai sepuh yang diceritakannya itu juga masih sering mengundang Man Kholik melalui telfon.

Markum mulai tersadar oleh pertanyaannya sendiri, kalau Man Kholik kenal dengan mantan bupati dan kiai-kiai sepuh dari berbagai kota, kenapa pembangunan masjid di kampungnya tidak juga rampung?

*Jombang-Jogjakarta, 2008

_____________________________
Dimuat di Koran Merapi, Minggu 27 Juli 208
selanjutnya...