30.10.06
4 komentar

Lebaran Ini

Emak tidak ikut nyekar bersama kami. Ini aneh. Entah apa yang ada di pikirannya, kami tak bisa meraba. Mbak Ida, Sofi, dan aku bergiliran membujuk agar emak tetap pergi bersama kami nyekar ke makam bapak sebelum bersilaturahmi ke para tetangga. Ini hari raya dan kebiasaan di kampung kami selepas shalat id adalah nyekar ke makam leluhur atau saudara muda yang sudah meninggal lebih dulu. Tentu aneh di mata tetangga jika ada yang beda dengan kebiasaan mereka yang sudah lama berlaku. Tapi, biarlah. Biarlah emak memilih sikapnya. Toh, kami tetap akan berangkat ke makam bapak untuk nyekar dan kirim doa.

Jalan ke makam memang tidak terlalu jauh. Hanya perlu waktu lima belas menit berjalan kaki untuk sampai ke sana. Aku, Mbak Ida, dan Sofi bersepakat untuk tetap berangkat sebelum matahari kian meninggi. Mbak Ida membawa bunga tiga rupa yang dibungkus daun pisang dan toples ukuran sedang yang sudah diisi air. Bunga itu menebarkan wangi menyengat. Bunga dan air itulah yang akan ditumpahkan di atas pusara bapak. Ya, kami telah mengenangnya sebagai sosok yang sangat kami segani sehingga sepeninggal beliau lima tahun lalu kami benar-benar merasa ada yang hilang dalam kehidupan kami.

Kami bertiga berjalan menyusuri jalanan di pinggiran sawah. Itu jalan satu-satunya ke makam. Hijau dedaun padi dan rerimbun bambu begitu menyihirku. Inilah yang menyebabkanku selalu rindu dengan kampung halaman.

Pemandangan di sawah itu sejuk, berbeda dengan apa yang sering aku lihat di kota besar macam Jakarta tempatku bekerja. Beberapa meter sebelum kami sampai ke makam itu, aroma kamboja yang sangat menyengat sudah menyergap hidungku. Jika malam hari, mungkin aroma kamboja akan membuat takut sebagian orang sebab aroma kamboja adalah aroma hantu dan kematian.

“Ham, kamu nanti yang mimpin yaasin dan tahlilnya,” pinta Mbak Ida kepadaku. Sofi, saudara bungsu kami memberiku isyarat dengan gerakan kepala, bersepakat dengan Mbak Ida.

Aha, baca yaasin dan tahlil? Tiba-tiba kakiku seperti berat untuk mengiyakan. Permintaan Mbak Ida itu bukannya tak bisa aku penuhi. Di kepalaku memang masih menyimpan beberapa ayat dan kalimat-kalimat tahlil. Tapi, bukankah aku sudah lupa bagaimana lengkapnya kalimat itu dibaca? Kesibukanlah yang selalu aku jadikan alasan. Sayangnya, tak ada di antara kami yang membawa tahlil atau yaasin.

“Kamu baca saja apa yang masih kamu ingat,” seru Mbak Ida, rampung kukatakan aku sudah banyak lupa dengan kalimat-kalimat itu. Entah apa yang ada di kepala Mbak Ida kemudian, juga Sofi.

“Baiklah, nanti kalau aku lupa atau salah, tolong diingatkan ya.”

*****

Emak rupanya sudah menunggu di rumah sambil menyiapkan kue-kue dan menyeduh teh untuk disuguhkan kepada tetangga atau saudara terdekat yang akan berkunjung. Umumnya mereka berkunjung secara bebarengan dalam satu keluarga dan segera disusul oleh keluarga lainnya. Namun, ada juga orang-orang tua, ibu-ibu, pemuda, para gadis, serta anak-anak yang berkeliling dengan kelompok mereka masing-masing. Bagi anak-anak, mereka pasti mengenakan pakaian juga sandal terbaik sebab itulah arti hari raya buat mereka. Mereka mendapat uang saku.

Dulu aku juga begitu. Aku bahkan paling suka membakar mercon émpling (1) di jalan-jalan. Baru setelah aku sekolah, aku tahu hari raya memang hari kemenangan bagi semua muslim yang merayakannya.

Sampai hari raya kupat (2) tiba, kampung kami masih ramai. Biasanya setelah dua hari, tamu yang berkunjung adalah kerabat jauh. Paling tidak, itulah satu-satunya kesempatan untuk bertemu dan meluapkan rindu, membincangkan apa saja.

*****

Yaasin dan tahlil usai diucapkan, doa-doa pun telah dipanjatkan. Kami memutuskan pulang, meninggalkan bapak dalam kesunyian liang lahat. Air dan bunga itu adalah harapan kami agak bapak senantiasa diliputi wangi, seperti wanginya bunga itu.

Kami sampai di rumah. Hari itu tamu yang datang pertama kali adalah Cak Kholik. Rumahnya tepat berhadapan dengan rumah kami. Ia datang dengan istrinya yang cantik. Perempuan itu dinikahi sekitar tiga bulan lalu. Kabarnya, istri Cak Kholik adalah mantan qari’ah di kecamatannya.

“Wah, bagaimana rasanya Lebaran dengan istri baru, Cak?” tanyaku bergurau.

“Makanya, kamu segera kawin. Enak lho,” kata Cak Kholik.

“Dulu kamu bilang mau kawin umur dua puluh lima. Bukankah itu yang kamu katakan tiga
tahun lalu, Ham?” lanjutnya. Lalu tawa pun pecah di rumah kami. Aku sendiri nyengir.

“Ayo, Lik dicicipi kuenya. Tehnya juga,” seloroh emak.

Berikutnya, Cak Mustari, Cak Udin, Kang Anam, dan tetangga lain silih berganti mengetuk pintu rumah kami yang dibiarkan terbuka.

“Emak ikut keliling sama kami, ya?” ajak Mbak Ida.

Tapi aku menangkap ada keberatan merayap di wajah emak. Inilah yang membuat aku dan dua saudariku heran, Lebaran ini emak banyak berubah. Sudah dua hal yang mendukung penasaran kami; emak tidak mau ikut nyekar dan keliling ke rumah tetangga.

“Bukankah di rumah kita juga bisa bertemu dengan mereka? Lalu kenapa kita harus bertemu dua kali? Atau jangan-jangan kalian hanya ingin mencicipi kue tetangga?”

Aku terkejut. Mbak Ida dan Sofi juga. Dari mana emak mengumpulkan pikiran-pikiran itu? Aku masih ingat saat di kampung dulu kiai Hamid pernah mengatakan silaturahmi banyak manfaatnya, salah satunya untuk menunjukkan rasa saling menghormati. Bahkan, ada satu hadis yang dikutip kiai Hamid dan masih aku ingat sampai sekarang; orang yang sengaja memutus tali silaturahmi tidak akan masuk surga.

“Kalau untuk menghormati, baiknya mereka yang muda datang kepada yang lebih tua,” kata emak.

Aku diam. Menikmati kata-kata emak. Entahlah, itu kemarahan atau bukan.

“Ya, sudah. Biarkan emak. Mungkin kalau kita semua pergi, siapa yang akan menunggu rumah?
Apakah akan dibiarkan orang yang bertamu kecewa karena terlalu lama menunggu?” sela Sofi.

Ah, aku tak berpikir sampai ke situ. Bagiku Lebaran belum terasa nikmatnya jika tidak berkunjung dari satu rumah ke rumah lainnya. Sofi memang tak banyak bicara, tapi sekali dia bicara langsung mengena.

“Baiklah, biar aku sama Mbak Ida saja yang keliling. Kamu di rumah sama emak,” kataku.

*****

Aku menunggu Mbak Ida yang sedang asyik ngobrol dengan Mbak Zum di rumahnya. Dia adalah teman sekelas Mbak Ida waktu sekolah dulu. Sekarang dia sudah punya dua anak. Di antara teman-teman Mbak Ida yang aku kenal, tinggal Mbak Ida sendiri yang belum menikah. Aku tahu seperti apa perasaan perempuan yang belum juga menikah di usia tiga puluhan.

Obrolan itu sudah melebar ke mana-mana. Mbak Zum menceritakan pekerjaan suaminya yang baru digeluti setengah tahun ini; sebagai sopir angkutan salah satu toko bangunan yang ada di kota kami. Sebelum mendapat pekerjaan itu, suaminya sering pailit. Cak Bowo, suami Mbak Zum, dulu adalah penjaja peralatan dapur. Ia berkeliling dari rumah ke rumah melayani kredit kepada pelanggan yang kebanyakan adalah ibu-ibu. Namun, beberapa pelanggan itu tampaknya lebih pandai berkelit sehingga Cak Bowo pun memutuskan mencari pekerjaan lain.

Aku tinggalkan mereka berdua dan bermain mobil-mobilan dengan salah satu anak Mbak Zum yang lucu di teras. Yang lain tampaknya lebih asyik bercakap-cakap dengan boneka beludru kesukaannya.

*****

“Zum, aku perhatikan Lebaran ini emak makin aneh saja. Sudah dua hal yang membuatku gelisah.”

Entah bagaimana muasalnya, ketika aku masuk ruang tamu tiba-tiba obrolan mereka beralih ke masalah emak. Ya, aku sebenarnya menangkap kesan bahwa soal emak diam-diam sangat menarik perhatian Mbak Ida. Mungkin sebagai anak pertama dan perempuan, Mbak Ida berusaha mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan paling buruk dari kata-kata tetangga. Bukankah desa masih selalu begitu, sekecil apa pun tindakan yang berbeda dengan apa yang sudah berlaku akan menjadi gunjingan?

“Tadi pagi aku mengajak emak nyekar ke makam bapak tapi ditolaknya, bahkan emak memilih bungkam seribu alasan. Aku mengajaknya untuk berkunjung ke Yu Mi, Mbok Siti, dia juga menolak. Malah emak katakan sesuatu yang jauh dari pikiranku.”

Mbak Zum menyimak apa yang dikatakan Mbak Ida dengan saksama.

“Apa yang dikatakan emak?”

“Emak bilang kenapa harus berkunjung ke rumah tetangga. Toh, mereka juga datang ke rumah dan bertemu kita. Kenapa harus bertemu dua kali?”

Sebelum obrolan atau mungkin gunjingan itu makin melebar, aku menyela.

“Aku kira masalah emak disudahi saja. Biarkan. Memang orang tua selalu begitu. Kadang mereka seperti anak-anak. Aku takut nanti malah kita ngrasani. Lalu buat apa kita minta maaf kalau setelah itu kita buat kesalahan lagi?” kataku.

“Bukan begitu, Ham. Kamu juga harus ikut mikir. Jangan-jangan emak sedang melakukan protes kepada kita,” suara Mbak Ida terdengar kian serius.

“Iya, Ham. Barangkali emak gelo (3) atau ada keinginan yang masih dirahasiakannya,” sambung Mbak Zum.

Begitulah obrolan kami bertiga di rumah Mbak Zum hanya diliputi perdebatan-perdebatan. Aku tetap pada pendirianku, biarkan emak begitu. Biar saja anak-anaknya yang menjelaskan kepada orang lain jika ada yang bertanya.

Namun, sebelum kami bertiga rampung—karena obrolan itu memang belum rampung dan sepertinya tak akan pernah rampung, aku melihat Cak Kholik datang dengan semburat pucat di wajahnya. Kami yang di ruang tamu terkejut bukan kepalang, emak yang tubuhnya makin kurus dan tadi pagi tampak biasa sekarang terkulai lemas di atas bayang.(4) Cak Kholik bilang, sesak napas emak kambuh. Emak terpeleset di kamar mandi dan jatuh hingga tak sadarkan diri.
Tanpa pikir panjang, kuajak Mbak Ida—disusul Mbak Zum dan Cak Kholik—segera pulang. Kami berempat berjalan cepat. Sesekali kami menimpali sapa tetangga di jalan menuju rumah. Semoga keadaan emak tidak lebih buruk lagi. Aku melihat Sofi menghambur ke arah kami dengan air mata yang menganak-sungai di pipinya. Ia segera menarik lenganku dan menyeretku ke dalam rumah. Mbak Ida, Mbak Zum, dan Cak Kholik membuntuti kemudian.

Aku ingat, sisa bunga tiga warna yang dibeli Mbak Ida masih ada di dapur. Aromanya serta merta menyergap hidungku. Wangi yang aneh. Dan aku lihat tubuh emak terbaring di atas bayang bertudung jarik (5) dari kepala sampai kaki. Ada apa dengan emak di hari Lebaran ini?

*Jombang, Ramadan 1427 H
_______________________
1. Mercon émpling: petasan ukuran kecil, sebesar lidi, dengan daya ledak yang kecil pula.
2. Kupat (Jw), adalah istilah lain dari ketupat. Hari raya kupat merupakan tradisi yang masih berlaku sampai saat ini di Jombang dan H+6 setelah Idul Fitri. Warga berkumpul di surau atau masjid untuk membaca tahlil dan doa-doa.
3. Gelo (Jw): kecewa.
4. Bayang (Jw): ranjang yang terbuat dari bambu. Di daerah sekitar Jombang, istilah padanannya adalah amben.
5. Jarik (Jw): kebaya.


_____________________
Cerpen ini dimuat di HU Sinar Harapan, Sabtu 28 Oktober 2006

4 komentar:

Anonymous said...

Saya senang cerpen mas Fahmi "lebaran ini" sebetulnya puisi-puisinya juga. dan memang Jodoh, rezeki, maut adalah rahasia Tuhan. tapi untuk maut katanya kalau kita peka kita pasti bisa merasakan tanda-tanda itu!
btw saya maurin, kebetulan gak sengaja buka google lagi cari artikel feng shui eh kok dilalahnya malah nyasar ke blogmu yo! ya itulah rahasia Tuhan he..he..he... anyway salam kenal yo!

salam
m_handayani96@yahoo.com

albi said...

knopo mak e paqn cak

fahmi amrulloh said...

mbak maurin, salam kenal balik dan makasih ya udah "nyangkut" di Beranda saya..meski hanya kebetulan...he..he.he..he..terima kasih juga udah menyukai cerpen "Lebaran" itu....

fahmi amrulloh said...

untuk albi, aku gak nduwe emak...hiks..*mesakke.. :P

 
Toggle Footer
Top