23.9.07
9 komentar

KOTA SUNYI

Dan malam itu, lagu-lagu yang kuputar dari Winamp seperti menghardik diriku. Irama-irama berloncatan menyeruak ke dalam telinga bersamaan dengan angin malam yang menerjang pori-poriku. Lalu segalanya menjadi lengang dalam keramaian. Indah mengancam akan memutuskan hubunganku dengannya dan akan mencari laki-laki lain yang lebih baik dariku jika aku terus saja menunda mengunjunginya. Aku mafhum.
*****


Aku berangkat ke Jakarta dengan kereta malam kelas ekonomi. Kau tahu sendiri betapa tersiksanya aku dalam gerbong itu. Orang-orang berjejal berebut nafas. Suara-suara para pedagang yang tak kenal letih memburu rupiah berjuang mati-matian mengalahkan suara para pengamen. Bau pesing toilet menerjang dari pintunya yang tak terkunci. Dan dalam setelah itu ceritaku akan dimulai.

Kereta yang kutumpangi sampai di stasiun Senen pukul 06:35 pagi. Tanah yang asing. Pemandangan yang asing, yang berbeda jauh dengan Jogja. Sebelum keberangkatanku, beberapa hari lalu Indah berjanji akan menjemputku di Senen kemudian mengantarku mencari penginapan.

“Sayang, aku sudah sampai nih.” Kataku.

Aku mendengar suaranya masih berat. Mungkin semalaman dia tak bisa tidur membayangkan kedatanganku di Jakarta. Dan belasan kemungkinan yang terlalu banyak untuk disebutkan satu persatu.

“Fahmi, kau cari tempat istirahat aja dulu. Sebentar lagi aku jemput.” Katanya dengan sapaan yang bagiku mulai terasa ganjil dalam beberapa hari belakangan.

Baru tiga kali ini kakiku menginjak tanah Jakarta yang tersohor dengan kemacetannya. Tersohor dengan kenekatan copetnya. Tersohor dengan tetek bengeknya. Ada rasa merinding merambat di tengkuk. Jangan-jangan kawanan copet yang sering dikabarkan itu sudah mengintaiku sejak turun dari kereta? Tapi aku merasakan pemandangan yang biasa.

Aku melenggang dengan langkah yang kubuat tenang, berharap tidak ada orang yang curiga bahwa aku adalah pendatang asing yang buta peta kota ini. Beberapa waktu lalu aku membaca koran, banyak pembiusan atau gendam terjadi di tempat-tempat umum. Kota yang padat penduduknya memang sering menjadi sasaran para pelaku kejahatan, kata orang-orang. Aku mempercayainya.

Aku menepi pada sebuah mushalla yang tak jauh dari pintu keluar stasiun. Sekedar melepaskan lelah sembari menunggu kedatangan Indah. Kereta yang tadi membawaku ke stasiun ini hampir melanjutkan perjalanannya. Tak berselang lama, petugas perjalanan kereta meniupkan peluit dan rangkaian gerbong itu pun dalam sekejap hilang dari pandangan.

Aku masih menunggu Indah.
Ada perasaan yang lain ketika aku datang ke Jakarta, sebuah perasaan yang entah tak mudah dilukiskan. Sejak keberangkatanku tadi malam, aku membayangkan sebuah pertemuan yang indah, seindah namanya. Dia berjanji akan mengajakku mengitari seluruh kota, mengunjungi mall-mall, atau sekadar minum kopi di sebuah kafe sembarang atau mengajakku nonton film di twenty one.

Semula aku tak percaya aku bisa datang ke Jakarta. Dia sering bilang, tepatnya mengancamku, akan memutuskan hubungan kami dan mencari laki-laki lain yang lebih baik dari aku jika aku tak segera mengunjunginya. Aku pikir itu sesuatu yang wajar. Seseorang membangun hubungan istimewa dengan orang lain memang tak melulu diukur dari kuat tidaknya perasaan masing-masing. Dan sesingkat-singkatnya pertemuan tentulah menjadi obat rindu yang mujarab. Jika tidak, bukan hal yang salah kalau Indah lelah.

Aku masih menunggunya di mushalla itu. Sudah tiga puluh menit berlalu dan Indah belum juga muncul. Aku tak berpikir untuk cemas. Aku yakin bahwa dia akan menemuiku, menjemputku, dan menyambutku dengan hangat. Dia akan datang sendirian. Melempar senyum yang menggairahkan. Sayangnya, dia belum juga muncul sampai tak terasa mulutku menguap beberapa kali.

Seorang anak muda menawarkan koran pagi. Aku tak terlalu menghiraukannya. Kuambil HP dan mencoba menghubunginya.

“Fahmi, ini aku udah mau berangkat. Tunggu ya.” Balas Indah sebelum sempat aku bicara.

Begitulah dia selalu tanggap. Itu juga salah satu sifatnya yang paling aku gandrungi.
Aku rebahkan tubuhku di ubin mushalla. Dingin. Kepalaku masih dipenuhi bayangan-bayangan indah. Lagi-lagi, aku membayangkan pertemuan yang akan terjadi beberapa menit lagi. Mungkin kerinduan ini sudah terlalu menumpuk. Rasanya aku ingin menumpahkan ke tubuhnya.

Entahlah. Semuanya beraduk dalam satu kesempatan. Antara kebahagiaan dan ketakutan. Antara kebersamaan dan kesendirian.

Namun, setelah aku sampai di Jakarta, ketakutanku mulai berkurang. Aku pikir aku telah memenuhi janjiku meski mungkin Indah sendiri sudah tak sabar ingin melupakanku.

Ringtone HP ku berdering. Sebuah pesan masuk dari Indah.
“Fahmi, jalanan macet. Sabar ya.”
Aku membalas, “Ok. Hati-hati di jalan ya. Aku tunggu di mushalla stasiun sampai kamu datang. I love you.”

Ah, kenapa pertemuanku dengan Indah sepertinya masih akan lama. Bukankah di kota ini, jarak yang sebenarnya bisa ditempuh selama 30 menit bisa jadi lebih dari satu jam? Ya, kota yang kejam. Namun, siapa peduli dengan keadaan seperti ini? Orang-orang hanya ngomel tak jelas jeluntrungnya. Setiap hari mungkin bisa ratusan ribu atau lebih kata makian diucapkan, sekeras klakson dibunyikan. Aku tak mau ambil pusing dengan mereka. Bagiku, aku sudah cukup bahagia bisa datang ke Jakarta.

Aku sudah mulai menguap lagi. Selama dalam perjalanan, aku tak bisa menikmati istirahat yang nyaman, terutama oleh suara para pedagang asongan dan pengamen yang kebanyakan suka memaksa. Meski selepas stasiun Purwokerto aku mendapat tempat duduk dari seorang ibu yang turun di stasiun itu, tapi tetap saja punggungku seperti ditekuk-tekuk. Kaki pun tak leluasa bergerak. Perjalanan malam itu benar-benar membuatku lelah.

Seorang laki-laki setengah tua menawariku kopi. Tampaknya dia salah satu dari sejumlah pedagang yang beroperasi di stasiun ini. Aku mengiyakan tawarannya.

“Ke mana, Mas?” tanya si pedagang itu.
“Oh, saya sedang nunggu jemputan, Pak.”
“Kerja?”
“Oh, tidak. Saya hanya mau mengunjungi teman saya.”
“Hati-hati lho, Mas. Ini kota besar. Kejahatan di sini bisa terjadi kapan saja, gak kenal waktu dan tempat.”
“Maksud Bapak?” aku berusaha mengejar jawaban dari si bapak penjual kopi ini.
“Lho, yang di tivi-tivi sama koran-koran itu mah belum seberapa, Mas.”

Aku semakin bingung dengan pembicaraan laki-laki setengah tua ini. Itu sebabnya aku yang sebelumnya menanggapi dengan santai, kini air mukaku berubah jadi serius.
Aku mengambil sebatang rokok kretek dan membakarnya. Aku geser sedikit ke belakang tas dan jaketku. Aku lanjutkan menyimak apa yang dibicarakan si penjual kopi itu.

“Kemarin sore ada jambret ketangkep di seberang jalan itu, Mas. Pokoknya untung banget pelakunya ketangkep.”
“Terus?” tanyaku penasaran.
“Ya sudah, habis tuh pelaku digebukin rame-rame.”
“Sering kejadian ya, Pak?”
“Ya, sering gak sering sih. Tapi yang pasti, kalo ada orang yang keliatan baru di sini udah pasti jadi sasaran empuk mereka. Makanya tadi saya bilang sebaiknya Mas hati-hati aja. Sekadar berjaga-jaga aja kan.”

Aku pikir si penjual kopi itu akan menceritakan persitiwa yang heboh. Tapi tidak ada masalah bagiku. Sejak aku turun dari kereta beberapa menit lalu, baru kali ini aku disapa orang. Ia pasti orang yang jujur dari sejumlah pedagang yang ada di stasiun ini.

Aku melihat jam tanganku. Lima menit lagi tepat pukul tujuh. Tapi belum ada tanda-tanda kau akan menjemput. Apakah separah ini kemacetan di kota ini? Tapi aku masih bisa menahan lelah sembari menatap orang-orang berlalu lalang. Apa yang sedang berputar di dalam kepala mereka? Entahlah. Yang jelas aku menyimpulkan wajah-wajah mereka dalam dua hal; wajah yang santai dan wajah yang terlihat tegang seperti dikejar waktu.

*****

“Fahmi, sorry banget. Kelamaan nunggunya ya?”

Suara Indah mengejutkanku. Aku mengangkat bahu dan sebentar mencondongkan kepalaku ke kanan.

“Ya, sudah. Kita langsung cari penginapan dulu aja ya biar kamu cepat istirahat.” Ajaknya.

“Oke.”

Hanya dalam hitungan detik aku sudah menyambar tas dan jaketku. Aku berjalan mengikuti Indah. Namun, sebelum langkah kami menerobos pintu keluar, Indah mendadak menghentikan langkah. Aku masih mengikutinya.

“Fahmi, aku mau kenalin ke kamu. Ini Arman.”
“Arman.” Katanya, sembari menyodorkan tangan ke arahku.
Aku terkejut, sepertinya nama laki-laki ini sudah tak asing disebut-sebut oleh Indah.
“Fahmi.” Kataku membalas menyodorkan tangan.

Tangan kami saling berjabat. Tiba-tiba darahku seperti dipompa lebih keras. Jantungku berdetak melebihi kecepatan sebelumnya. Keringat dingin mulai terasa menembus keluar telapak tanganku. Aku menatap wajah Arman, tepatnya di bagian dahi, seperti ada huruf-huruf berlarian menuruti rangkaian :kamu telat datang, tapi kami akan tetap menyambutmu sebagai kawan.

Aku menoleh ke arah Indah. Kedua matanya menatap ke arahku dan seolah mengiyakan dugaanku. Entah apa yang dipikirkannya? Bibirnya melahirkan anak-anak senyum yang khas miliknya. Untuk menghilangkan kecurigaan mereka, aku pura-pura hendak mengambil HP. Tapi…astaga, saku jaketku kosong.

“Apakah si laki-laki setengah tua penjual kopi tadi….?” Pikirku.
Segalanya jadi kian samar.

“Kenapa kamu?” tanya mereka berdua kepadaku, nyaris seperti suara koor. Aku tak lagi menghiraukan mereka. Kepalaku seperti dijejali benang kusut. Mendadak aku merasa kota ini benar-benar sunyi dan membuatku semakin terasing. Aku harus menghubungi siapa lagi?

*Jogja-Jakarta, 09/2007

(Dimuat HU Surya, Minggu 23 September 2007)
*mengenang seseorang dalam tokoh cerita*

9 komentar:

Ani said...

Tulisan & pengungkapan ceritanya bagus.. !!!

Anonymous said...

makasih jeng Ani...hehehee...jadi terpuji hihihiiii...merah pipiku

PuTLie said...

hiks hiks... meres sapu tangan...

fahmi amrulloh said...

hahahaa.....jangan sapu tangan....mending taplak meja ato gorden sekalian...ahhahhahaa....

*tenk sak tonk*

n. mursidi said...

seusai membaca cerpenmu, aku hanya bisa ketawa.... kenapa dendam bisa menghasilkan uang???? ha 3x aku titipkan dendam-mu yang lain, agar bisa dimuat di media nasional

fahmi amrulloh said...

hahahhaa...banyak peristiwa yang perlu ditertawakan, bung.kalo kita menertawakan orang,kita juga harus siap jadi salah satu bahan tertawaan.entah di depan muka atau di belakang.dendam ke siapa lagi nehh...???wuakakakakakkkk...tew azza...namanya juga k-e-r-e-atifitas...hahahahaa....gitu azza refots.... *jarene aku di-link, ngendi? aku lali blogmu*

ciaaatttttttt........

Danu said...

KWAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKA.........
T-O-B B-G-T!!!!!

SEMANGAT BOS!!!!!!!!!!!!!1

cahaya hati said...

bocah ra jelas

Enno said...

ceritanya keren ya... tapi kok tragis. lbh tragis dr kisahku... :)

 
Toggle Footer
Top